Kamis, 13 Mei 2010

Secuplik Teori Ilusi ( Sebagian hilang T.T )




6 tahun sudah...
Perasaanku kalang kabut
Karena ikhwan itu

Perasaan cinta kecil yang semu
Menggeretak, menggerus, dan bergejolak
Namun tetap meyakini
Bahwa aku pasti kan jadi pilihannya saat besar nanti

Cinta kecil seorang anak kelas 5 SD
Dihadapkan dengan dia yang telah berada di bangku SMA
Ilusi pikirku.

Bagaimana mungkin precil seperti ini bisa?
Toh yang sama usia dengan dia,
Masih perlu pikir panjang lagi untuk dapatkan dia

Lalu bagaimana denganku?

Ini klasikal kehidupan yang takkan pernah kudapatkan titik temunya
Biarpun meraung ataupun dunia luar menderakan satu hatiku
Aku tetap bisa betahan,
Seperti Allah sengaja telah memberikanku kekuatan untuk hal ini

Setiap melihat engkau berkasih dengan-Nya
Jantungku terasa bergejolak lembut
Berdenyut hidupkan desahan rindu darahku akanmu

Sempat terlintas teori di pemikiran logikaku
Bagaimana mungkin kau sampai hati membuat-Nya cemburu karena kehadiranku
Aku hanya bisa tersenyum bahagia meng-iya-kan teoriku

Itu mungkin!
Mungkin mengapa sampai saat ini tak membalas apa yang aku rasa
Yang sebenarnya kau tahu, kalbuku merindukan imanmu

Selama itu, terus kuperbaiki fiqih dan aqidahku
Sambil berteori khayal, kau sedang lakukan hal yang sama sepertiku
Kita sedang melakukan hal yang sama untuk persiapan perintah rasulullah
Melengkungkan janur kuning di depan rumah kita

Selama penantianku padamu,
Godaan akan kebersamaan denganmu sempat tergoyahkan,
Tapi kutebas sudah pikatan lelaki tampan dari Surabaya itu
Tulus ku meyakinkan kepadamu, bahwa aku jauh lebih memilihmu

Ku ingin pekikkan keras keras kepadamu :
“Aku ingin memelihara dan menyayangi anak anakku bersamamu dengan lingkungan keimanan. Bukan hanya dengan cinta.”

Tapi keringnya hatimu tuk balas secuprit hatiku saja kau tak mau
Kau benar, tapi kau salah
Menyadarkah engkau kebisuan balasan darimu itu justru membuat banyak keraguan akan teoriku makin berkobar dan bergetar hebat?
Aku takut, ketika ku menunggu waktu itu sekian lama ini, ternyata tak pernah datang waktu itu kepadaku
Aku sempat berpikiran untuk tak lagi mengokohkan keinginanku mengimankanmu sebagai pendampingku kelak ...

Tapi sanggupkah aku?

1 komentar: