Jumat, 27 Mei 2011

Mungkin Cintaku yang Sebenarnya, Andra - Review Film Pupus




Bila kamu mencintai seseorang, biarkan dia pergi ...
bila dia kembali, dia akan menjadi milikmu selamanya ...
-Pupus-


DISTAAAAAAAA!!! NONTON INI AJA GIMANA?!

Siang tadi, begitu sampai Cinema 21 aku langsung mengajak sahabatku, Camille de Keyser atau yang akrab dipanggil - Dista - untuk menonton satu film yang disutradarai Rizal Mantovani ini. Ada banyak hal yang langsung membuatku tertarik dan yakin kalau film ini ceritanya nggak akan jauh beda sama Verloren Liefde. Apalagi sesaat setelah membaca kutipan yang ada di dalam psoter.
Kutipan diatas sepertinya mampu menyihirku untuk lagi-lagi mengingat tentang sosok Andra.

Mengingat Andra untuk kesekian kalinya...


Film ini diperankan oleh bintang-bintang keren seperti misalnya; Marcell Chandrawinata, Donita, Kadhita Ayu, Ichsan Akbar, Vicky Monica, Arthur Brotolaras, dan banyak lagi lainnya. Film Pupus mengulas tentang kisah romantis yang terkemas cantik nan sederhana dalam cerita cinta remaja pada umumnya. Tatap, senyum, benci, rindu, galau, tangis, bohong, khianat, marah, kecewa, dan pisah. Semua tentang cinta ada dan dikisahkan dalam film berdurasi kurang lebih 90 menit. Liku cinta sepasang pemeran utama dikisahkan begitu panjang hingga akhirnya takdir mempertemukan kasih diantara mereka walaupun harus dalam keadaan yang berbeda.

Ketika kematian menjadi batas ruang gerak
Semua orang membenci kematian


Atikel kali ini dititik beratkan pada apa yang mereka sebut dengan kematian.
Ya, kematian.
Atau akhir kehidupan seseorang.
Karena ini akan selalu mengingatkanku pada seseorang
Seseorang yang telah mengalami kematian,
Andra

Andra, lelaki yang 16 bulan yang lalu menghadapi kematiannya.

Kematian yang menurutku indah karena ada saudara-saudara yang mencintainya
Menemani disamping ranjangnya hingga Sang Kematian itu benar-benar datang menjemputnya.
Tapi sayang,
Ada satu pihak mengatakan TIDAK.
Perbedaan pendapat yang hingga kini ciptakan ganjalan dalam hati yang belum juga mau untuk pergi
Dia yang tak perlu disebutkan namanya berkata lirih kepadaku,

Kematiannya tragis.
Bayangkan saja,
Dia pergi sebelum sempat merasakan satu cinta
Padahal cinta itu teramat sangat dalam dan membekas
Satu cinta yang membuat hidupnya jauh lebih indah
Meskipun tak kan pernah sekalipun dia mampu merengkuhnya
Apalagi ketika merindu
Setiap kali hanya sakit yang dirasa
Namun dia tetap mencinta
Baginya kalau sudah cinta, ya cinta.
Tak ada kata lain untuk cinta selain cinta
Dan cinta itu KAMU
Sadarkah kamu bahwa akhirnya dia harus menghadapi kematian
Sebelum dia sempat merengkuh cintamu
Sebelum dia sempat memilikimu
Sebelum dia sempat dicintai olehmu
Ingatlah satu hal,
Cintanya kepadamu tak pernah main-main
Apakah hanya karena status saudara lalu dia menganggap apa yang dia rasa kepadamu hanya main-main?
Kukatakan sekali lagi, TIDAK!
Maafkan aku, mungkin terlalu lancang kukatakan hal ini kepadamu
Tapi aku hanya mengatakan apa yang selalu diceritakannya kepadaku
Dia sungguh mencintaimu dan dia pergi juga masih dengan perasaan yang sama.


Serupa tapi tak sama.
Film ini sesekali mengingatkanku akan masa lalu. Memang tak semuanya, karena kejadian-kejadian yang dialami sang pemeran utama bernama Cindy dan Panji (diperankan oleh Donita dan Marcell Chandrawinata) berbeda dengan kami. Kami tak memiliki tanggal lahir yang sama seperti dalam film. Saat dirawat di rumah sakit aku tak pernah menjenguknya karena dia berada jauh disana. Saat dia meninggal pun aku tak sempat memandang wajahnya tuk yang terakhir kalinya.

Film yang menarik untuk ditonton. Film yang cukup menguras air mata bagi penikmat galauers-kata orang sekarang. Hampir setiap penonton dari film ini meneteskan air mata haru setelah menontonnya, termasuk Dista-sahabatku satu itu. Berkali-kali cewek bule ini memelukku dan menatapku haru.


Fotoku bersama Dista sebelum menonton film Pupus

"Film ini sedih bangeeeet yaaa!" Ucapnya sambil mengusap wajahnya setelah lampu bioskop kembali menyala tanda film telah berakhir.
"Hmm... ya." Balasku sambil tersenyum simpul.
"Apakah kamu tadi menangis?"
"Kurasa tidak."
"Kenapa? Padahal film ini sedih banget!" Tanyanya heran
"Aku sudah menangis dengan hal yang sama Februari tahun lalu dan aku nggak mau mengulangnya lagi." jawabku mantab.
"O... Medha... aku ingin memelukmu!" pinta sahabat Belgia-ku satu itu dan dia pun memelukku erat sambil berkata, "Sepertinya aku mulai tahu apa yang kamu rasakan sampai saat ini. Medha... kamu perempuat kuat!"


"Makasih Dista, tapi sebenarnya aku tak sekuat apa yang kamu lihat sekarang. Aku juga rapuh sama seperti yang lainnya."


Terimakasih juga untuk teman-teman semua,
Mas Hendra Ishwara (kakak Andra)
Keluarga besar
Sahabat RESEF, KAPRI, SOCLATE
Sahabat Ash habul Kahfi
Teman-teman Andra
dan tak lupa pada kalian,
yang telah menyempatkan waktunya untuk membaca blog ini dan berbagi kasih denganku. Terima kasih atas doa kalian, sementara aku hanya membuat kalian menangis dengan hadirnya blog ini. Maafkan aku ya, hehehe ^^

Kini aku sadar ... mungkin sebenarnya aku mencintai Andra
Bukan lelaki berbaju merah dalam slideshow di atas
Nyatanya aku tak bisa melupakan segala tentang dia
Buktinya di setiap saat selalu ada saja kesempatan untuk mengenangnya

Andra, maafkan aku, mungkin aku terlambat menyatakannya
Tapi harapan memang sudah tinggal menjadi harapan
Tak mungkin ada keajaiban,
Kalaupun ada... namun itu takkan mungkin terjadi
Sudahlah, lupakan.


Bila kamu mencintai seseorang, biarkan dia pergi ...
bila dia kembali, dia akan menjadi milikmu selamanya ...
-Pupus-


Salam cinta dariku,
Medha Zeli Elsita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar