Rabu, 01 Juni 2011

I Love Frau



KYAAAA!
Begitu mendengar dan melihat live concert sang pemilik nama Leilani Hermiasih Suyenaga ini aku langsung jatuh cinta sama semua lagu-lagu yang diciptakannya. Pelantun lagu Mesin Penenun Hujan ini langsung menyihirku untuk mau membeli albumnya yang berjudul Starlit Carousel begitu mendengar kehebatannya dalam memainkan piano kesayangannya, Oskar.


Baru kemarin Minggu, 30 Mei 2011, aku bersama sahabatku -Tia- menonton konsernya secara langsung untuk yang perdana dalam puncak acara Nutriction #2 yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Umum UGM. Aku nggak pernah tahu sebelumnya kalau ternyata pelantun lagu Mesin Penenun Hujan yang sering kudengar di SwaragamaFm adalah dia, seorang Frau.

Mendengar lagu-lagunya, membuatku langsung berpikir...
Aku mau beberapa lagu Frau menjadi soundtrack Verloren Liefde (rencananya akan dibuat novel, komik, soundtrack, dan film), selain memakai lagunya Jikustik yang Untuk Cinta. Sebelumnya aku memang sudah menghubungi Mas Brian (vokalis Jikustik) untuk mau me-remake ulang lagu Untuk Cinta-nya agar dapat dijadikan Original Soundtrack Verloren Liefde dan disetujui, yippi!

Satu masalah yang belum terselesaikan, kapan aku bisa bertemu dan membicarakan hal ini kepada Mbak Lani Frau? Ah semoga di hari mendatang :)


Satu album biru Frau dan ipod hitam ini kemudian menginspirasi hari-hariku untuk mengerjakan project impian, Verloren Liefde



Mesin Penenun Hujan
Merakit mesin penenun hujan,
hingga terjalin terbentuk awan
Semua tentang kebalikan,
terlukis, tertulis, tergaris di wajahmu
Keputusan yang tak terputuskan,
ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan,
kebalikan di antara kita
Kau sakiti aku, kau gerami aku
Kau sakiti, gerami, kau benci aku
Tetapi esok nanti kau akan tersadar
Kau temukan seorang lain yang lebih baik
dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan
Tapi takkan lama, ku kan jadi awan
Merakit mesin penenun hujan,
ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan,
kebalikan di antara kita


Glow
Hold me, you shall never ever see me
Blankets will not hesitate me
Flowers shan’t even wake
Kiss me, ‘tis the last time you may see me
‘Tis the last time light shall harm me
I shall cry myself to death
Funny, how you never shared your love to me
Lovely, oh the light I can see
It’s gleaming in my eyes
Like when you..
Burned me, tear my skin off and leave me
‘Tis the last time you may hold me
‘Tis the last time I shall say
‘good bye’


Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa
Di rentang waktu yang berjejal dan memburai, kau berikan,
Sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan
Di gigir yang curam dan dunia yang tertinggal, gelap membeku
Sungguh, peta melesap dan udara yang terbakar jauh
*) Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
Seperti takkan pernah pulang (yang menghilang) kau membias di udara dan terhempaskan cahaya
Seperti takkan pernah pulang, ketuk langkahmu
menarilah di jauh permukaan
Di rentang waktu yang berjejal dan memburai, kau berikan,
Sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan
*)
Jalan pulang yang menghilang, tertulis dan menghilang,
karena kita, sebab kita, telah bercinta di luar angkasa

Jangan takut untuk berkarya
Jadilah produktif dengan apa yang kau suka


Salam hangat,
Medha Zeli Elsita

2 komentar:

  1. aku suka semangatmu, slm knal aku lia)

    BalasHapus
  2. terimakasih banyak ya sudah mengomentari dan mengunjungi blog ini :) salam kenal juga, Medha :)

    BalasHapus