Senin, 26 September 2011

AGNES MONICA REVIEWED



Sudah lama rasanya aku nggak nulis 'sesuatu' yang baru lagi di blogku satu ini. Sebenarnya memang sengaja nggak nulis, sih, hehehe. Habisnya sekarang sudah kelas XII yang notabene waktunya banyak habis dikuras untuk kegiatan ehem belajar (padahal belajar aja nggak sama sekali, hehehe).

Nggak sih, lebih tepatnya waktu menggalauku jadi banyak tersita untuk istirahat. Sepulang sekolah sampai rumah yang biasanya banyak dilanjutkan untuk menulis, jadi banyak hilang tergantikan oleh kegiatan les dan semacamnya. Alhasil yang niatnya pengen nulis sepulang les juga jadi nggak kesampaian gara-gara sesampainya di rumah mata udah merem-melek (re: ngantuk) dan pikiran-badan udah total capek semua.

Tapi aku nggak tahu apa yg terjadi dengan malam ini, setelah dari beberapa waktu yg lalu beberapa teman-temanku tiba-tiba menanyakan tentang postingan terbaru dan memintaku untuk mau menulis lagi. Aku bingung. Mau nulis apa aku? Aku benar-benar belum dapat feel menulis lagi. Sampai-sampai aku ingat tentang kesukaanku pada satu sosok penyanyi, Agnes Monica, yang berkali-kali dengan lagunya berhasil membentuk 'feel'-ku untuk menulis dan betul! Seketika aku jadi moody menuliskan kegalauanku disini.

Adalah bentuk apresiasiku yang sangat besar kepada sosok Agnes Monica ketika dengan suara & akting dalam v-klip 'KARENA KU SANGGUP'-nya berhasil membuka kenangan masa lalu diantara kami.

Tentang siapa lagi kalau bukan tentang aku dan Andra :')


KARENA KU SANGGUP



biar aku sentuhmu berikanku rasa itu
pelukmu yang dulu pernah buatku
ku tak bisa paksamu tuk tinggal di sisiku
walau kau yang selalu sakiti aku dengan perbuatanmu
namun sudah kau pergilah jangan kau sesali

ref:
karena ku sanggup walau ku tak mau
berdiri sendiri tanpamu
aku mau kau tak usah ragu tinggalkan aku
kalau memang harus begitu

tak yakin ku kan mampu hapus rasa sakitku
ku selalu perjuangkan cinta kita namun apa salahku
hingga ku tak layak dapatkan kesungguhanmu

*back to reff

Spoken English :

baby now that you’re gone
now leave me alone
broken heart
tear me apart
i don’t need your mercy
i ain’t your lady
this melody
did you hear it?
let’s shout it again
take me back to refrain
*back to reff


Mungkin lagu diatas jauh lebih tepat menggambarkan tentang bagaimana perasaannya yang selalu aku abaikan. Sebenarnya bukan mengabaikan, tapi dia aja yang nggak tau diri! Sudah tahu aku (saat itu) nggak suka secara cinta sama dia tapi Andranya tetap maksa. Apa sih salah aku yang memang udah jelas bilang sama dia,

"Dir (aku panggilnya dia Dira-telah diceritakan dalam postingan sebelumnya) aku nggak suka sama kamu, aku pun nggak bisa kamu paksa untuk bisa cinta sama kamu. Ingat, Dir, aku mencintai dia(xxxx) dan bukan kamu!"

Aku nggak tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Sudah berkali-kali kukatakan padanya hal yang sama tentang ini, dia tetap saja memaksa. Bahkan dia sampai sempat mengatakan "Kamu suka sama siapa saja itu terserah kamu, Med. Kebebasan kamu! Yang kutahu, aku punya hak mencintaimu meski kamu nggak akan pernah mau atau bahkan mungkin menerimaku!"

Setiap kami memperdebatkan tentang hal ini, aku cuma bisa jawab: TERSERAH!

Padahal kenyataannya hubungan komunikasiku dengan dia(xxxx) nggak pernah berjalan sebaik aku mengenal seluk beluk tentangnya. Seluk beluk yang semakin dalam aku mengetahuinya, semakin kagum aku terhadapnya. XXXX atau yang nanti di dalam novel Verloren Liefde akan bernama Latief *bukan nama sebenarnya lho*. Latief terlalu pendiam bagi segelintir orang yang memang tak terlalu dekat dengannya apalagi lawan jenis yang belum dikenalnya. Dia selalu menundukkan pandangan (dalam islam disebut Ghodlul Bashor) kepada siapa saja yang mungkin bisa menciptakan suatu hal yg lain dalam hatinya.

Biarpun begitu, aku pernah mencintainya. Bahkan sampai kupertahankan perasaanku sampai 8 tahun lamanya. Aku menyukainya sejak kelas 5 SD (pernah diposting sebelumnya). Waktu yang tak singkat dalam pertemuan yang relatif singkat. Aku hanya bertemu dengannya penuh setiap bulan Ramadhan tiba. Banyak kutuliskan kenangan kecilku ketika bersamanya di dalam buku harian sampai-sampai kabar kalau aku menyukainya pun terkuak pada tahun ke-enam (tahunku mulai bergabung dengan majelis remaja yang sama dengan dia, Ash Habul Kahfi).

Bukan menjadi hal yang mudah setelah kabar ini sampai juga ke telinganya karena kelalaianku yang 'sembarang curhat' kemana-mana. Dia tahu aku menyukainya setelah aku mulai beranjak remaja, kelas X SMA dan aku mulai belajar berkerudung (meski masih setengah-setengah sampai saat ini). Tapi ternyata, keadaan tetap sama. Dia masih diam. Diam, tak merespon apa yang sudah jelas di depan mata bahwa aku menyukainya.

Diam, dia hanya diam. Tak merespon apa-apa.

Tidak ada seorang pun mengetahui alasan bungkamnya dia pada perasaanku yang sudah selama itu menjaga namanya dalam hati. Aku ikut diam saja. Pikirku, mungkin ada benarnya maksud diam yang dia lakukan kepadaku. Aku berusaha turut menjaga kekonsistenannya untuk tidak berpacaran sebelum menikah. Apakah hal itu mengindikasikan kalau jawaban darinya akan aku dapatkan ketika kami telah sama-sama siap untuk menikah kelak?!

AH! BELUM TENTU!
Dia tak memberikan pertanda atau petunjuk apa-apa kepadaku.
Dia tak menunjukkan perhatiannya kalau dia membalas rasa yang sama keapdaku. TIDAK!
Sekali pun dia tak berikan aba-aba untuk kami sama-sama menunggu pada perasaan yang sama!

TERUSKANLAH, versi piano by Rino (linked name youtube: riz85riz85)



Mengetahui hal ini terjadi padaku, Andra justru melakukan hal sebaliknya. Dia tak hanya diam demi menjaga perasaanku meski saat itu kami sudah terpisahkan oleh jarak yang cukup jauh karena dia ambil studi di Eropa. Aku telah dibuat sebal olehnya. Andra semacam mempertanyakan tentang semua pada Latief. AKU PUN SEMAKIN MEMBENCI SOSOK ANDRA!

Dia terlalu ikut campur akan masalah kami!
Aku yang awalnya sudah sebal dengan Andra menjadi membencinya. Lebih-lebih ketika mereka berdua akhirnya saling kontak-berhubungan untuk membicarakan tentangku. AKU MARAH! Semakin yakin kalau setelah peristiwa ini terjadi pastilah Latief yang sudah tak dekat denganku semakin menjauh ari pandanganku. Dan ... benar! Latief terlihat seperti menjauh dan bahkan hampir delalu menghindar dariku.

Aku hampir tak percaya ketika menyadari keberadaan aku dan Latief seperti kutub magnet yang sama jenisnya, karena Andra! Namun kemarahan ini seperti makin memudar ketika beberapa bulan setelahnya kuketahui dia mulai jarang nampak di dunia maya. Aku semakin kehilangan kabarnya sampai suatu ketika kuketahui dia opname. Dia bilang mungkin karena homesick atau efek keletihan atas pembudayaan bangsa yang berbeda. Opname pertama dijalaninya seminggu full. Sampai akhirnya bulan berikutnya dengan keterpaksaan dia harus dilarikan ke rumah sakit. Dia pingsan seketika ketika tengah makan malam bersama keluarga pamannya disana.

Dari opname yang selanjutnya ini akhirnya diketahui kalau ginjalnya bermasalah. Aku dikabari oleh Mas Hendra (kakaknya) setelah Andra koma dan dirawat intesif di ruang ICU dan didoktrin PGK (Penyakit Ginjal Kronis). Dia koma beberapa hari sampai akhirnya... menghembuskan nafas yang terakhir pada malam 16 Februari 2010 yang pernah diposting sebelumnya.

TANPA KEKASIHKU, Instrumental Malaysia



Kemarahanku mencair menjadi tangis. Aku kehilangan dia, Nozandra Avandira D. dalam usianya yang masih 18 tahun. Aku kehilangan sosok itu! Aku kehilangan!!! KEHILANGAN ANDRA!!!

Sejak itu hariku menjadi lebih kelabu. Seminggu kepergiannya aku hampir tak memiliki semangat untuk belajar. Aku menjadi lebih banyak diam. Aku menjadi lebih banyak tak peduli soal nilai-nilai pelajaran di sekolah. Semuanya amburadul. Semuanya menjadi berantakan. Aku tak mau peduli. Yang aku tahu, aku hanya ingin menangis. Saat itu juga!!!

Di dalam pikiranku hanya terus ada rasa penyesalan. Aku terlalu menyia-nyiakan hidupnya untuk tidak memperkenankan dia mencintaiku. Aku seakan menjadi orang terjahat di seluruh dunia dengan tidak memberikan kebebasan orang yang dengan tulus mencintaiku meski aku boleh tak menerimanya!

Langit begitu gelap, hujan juga tak juga reda
Ku harus menyaksikan cintaku terenggut tak terselamatkan
Ingin ku ulang hari, ingin ku perbaiki
Kau sangat kubutuhkan
Beraninya kau pergi dan tak kembali

Dimana letak surga itu
Biar kugantikan tempatmu denganku
Adakah tanda surga itu
Biar kutemukan untuk bersamamu

Kubiarkan senyumku menari di udara
Biar semua tahu kematian tak mengakhiri
cinta..

Apalah artinya hidup tanpa kekasihku
Percuma bila aku disini sendiri


Aku tak bisa melupakannya. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri. Perasaan bersalah sampai air mata yang tiba-tiba mengalir dari pelupuk mata seakan-akan menyatakan penyesalanku. Keegoisanku. Aku selalu menyangkalnya. Hampir aku selalu mengatakan aku tidak mencintaimya. Tapi yang kurasakan setelah dia pergi adalah ternyata aku mencintainya!

Aku terlalu terikat pada sosok Latief, aku mendoktrin diriku sendiri untuk hanya mau mencintai dia. Bukan yang lain. Tapi ternyata aku salah!

Sampai saat ini aku masih belum bisa memafkan perasaanku sendiri.


Dan Latief... dia tahu tentang kepergian Andra. Kini dia sudah tahu tentang semua. Tentang hubungan kami, cerita kami, gambar-gambarku, sketsa yang selama ini kubuat adalah dia, dan ... mungkin tentang blog ini, verloren Liefde.

Tapi dia tak bereaksi apa-apa, dia masih diam :)

Kini aku dan Latief sudah semakin dewasa. Aku sudah semakin dekat dengan istilah perkuliahan dan dia yang lebih tua dariku semakin tak asing dengan istilah... pernikahan. Aku tak tahu bagaimana tentang perasaanku yang belum juga berbalas sampai detik ini juga. Bahkan aku sempat berpikir, apakah aku masih mencintainya?

Aku ngak tahu...
Aku bingung dengan diriku sendiri. Karena dia juga membingungkan :)


Yang pasti saat ini aku masih merasa kehilangan Andra sebagai sosok yang selalu ada di setiap aku butuh selain sahabat-sahabat juga keluargaku. Sudah sepantasnya juga aku tak berharap pada cinta kesendirian seperti yang terjadi kepada Latief. Tapi, mungkin tanpa Latief, bisa saja aku 'RAPUH'.

Dan bila suatu ketika kutemui kenyataan 'undangan' darinya dengan seorang yg lain, semoga Allah menguatkanku dengan yang memilihkan lelaki yang lebih baik untukku :')


Amin.

RAPUH




Belum sempat ku membagi kebahagiaanku
Belum sempat ku membuat dia tersenyum
Haruskah ku kehilangan ‘tuk kesekian kali
Tuhan kumohon jangan lakukan itu

Reff :
Sebab ku sayang dia
Sebab ku kasihi dia
Sebab ku tak rela
Tak s’lalu bersama
Ku rapuh tanpa dia
Seperti kehilangan harap

Jikalau memang harus ku alami duka
Kuatkan hati ini menerimanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar