Selasa, 29 November 2011

Elegy 5th December 2011



Aku tak tahu apakah aku sedang benar-benar menunggu waktu itu, 5 Desember 2011
Satu hari dimana aku akan kehilangan xxxx, lelaki yang pernah ada 7 tahun itu untuk bekerja di Jakarta Selatan untuk satu tahun atau bahkan mungkin lebih.
Entah secara langsung ataupun tidak, hari-hari menuju waktu itu seakan-akan memburu detak jantungku semakin cepat dan lebih cepat; jauh lebih cepat

Perlahan, waktu berjalan mengantarkanku kesana
Sampai saat sekarang ini, sehari sebelum Desember, waktu terus cepat mengejar
Dan aku belum berbuat apa-apa kecuali satu...

MENANYAKAN TENTANG KEPASTIAN ITU

Malam sabtu lalu, usai pengajian 2 pekanan AsHka di rumahnya, semua akhirnya terjawab melalui perantara satu sahabatku, Satya a.k.a Darek yang masih berada disana. Awalnya aku nggak merasa yakin percaya sama dia yang suka usil setengah mati ini, tapi harus bagaimana lagi?

Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 dan aku sudah tak mungkin mengirimkan sms pada xxxx walau hanya untuk menyampaikan pesan selamat malam saja. Aku tahu dia tak suka ada yang mengirimkannya sms pada tengah malam dan Darek kuharap mampu menyampaikan pesanku padanya lewat sms kami.



Aku (M): coba pahami lirik Cinta Sendiri- Kahitna

Darek (D): Wow, memang apa yg kamu rasakan sekarang?

M: Kamu ingat kan cerita 7 tahun penantian itu? Aku sengaja nggak melanjutkan tahun yg ke-8-nya karena kupikir akan sia-sia penantianku selama ini. Sekarang aku ragu, setengah-setengah antara aku harus mencari yg lain atau... yaa, aku nggak tahu. Sementara ini aku mencoba untuk mencari penggantinya, tapi aku selalu merasa nggak yakin.

D: Biarkan hatimu itu mendapatkan kebebasannya, jangan kamu batasi kasih sayangmu itu hanya untuknya, biarkan cintamu itu melihat dunia. Toh kalau memang jodoh, sejauh apapun cinta itu pergi, akhirnya bakal dipersatukan lagi. Jangan mencintai dengan membabi buta. Jangan menjadi budak cinta.

M: Jadi, jawaban dia apa? Apa maksudnya dia nggak menolak tapi nggak juga menerima?

D: Lha kamu maunya gimana?

M: ?? Keputusannya ada di aku???

D: Enggak juga, sebenarnya nggak ada yang harus diputuskan.

M: Oh, aku disini hanya mau berkata: aku harus mencari yg lain dan nggak lagi menunggu jawaban dia lebih lama. Kalau memang kalimat ini benar, seenggaknya nggak ada lagi keraguan disini. Aku bisa mematahkan teori di kepalaku bahwa aku sudah tak terikat lagi dengan dia. Mungkin...

D: Anggap saja benar.

M: ???

D: Begini, kalau belum waktunya segala sesuatu itu masih mungkin. Ada kemungkinan YA, dan ada juga TIDAK. Jadi jangan batasi masa depanmu dalam satu pilihan. Sekarang coba pikir, ketika kamu masih menunggu tapi ternyata jawabannya TIDAK, kamu bakal gimana? Dan kalau kamu memutuskan untuk mencari yang lain tapi ternyata pada akhirnya dia MEMILIH kamu, gimana? Mencintai itu supaya hatinya TENTRAM/ TENANG bukan galau...

Kemudian malam terasa sangat berbeda, aneh. Kembali kubaca beberapa kalimat penting dari sms Darek untuk meyakinkan kebenaran itu.

Toh kalau memang jodoh, sejauh apapun cinta itu pergi, akhirnya bakal dipersatukan lagi. Jangan mencintai dengan membabi buta. Jangan menjadi budak cinta.


sebenarnya nggak ada yang harus diputuskan


Sekarang coba pikir, ketika kamu masih menunggu tapi ternyata jawabannya TIDAK, kamu bakal gimana? Dan kalau kamu memutuskan untuk mencari yang lain tapi ternyata pada akhirnya dia MEMILIH kamu, gimana?


Jadi artinya apa???

Nggak tahu.

Sampai pada akhirnya aku yang memutuskan sendiri untuk ... BERHENTI.
Berhenti untuk tak lagi banyak berharap
Berhenti untuk tak lagi menyimpan mimpi
Berhenti untuk tak lagi cinta sendiri
Berhenti untuk kebaikan
Berhenti untuk keadilan yang sama rata,
tak memilihmu; pun Andra


Kupikir inilah akhir dari karma yang ada, ketika aku dulu mengabaikan Andra dan akhirnya saat aku memilihmu mastih tetap sama seperti ini. Aku bahagia.

Ya, aku bahagia.

Rasanya kini semua sudah sangat berbeda. Sudah saatnya aku memulai semuanya dari nol dan mencari penggantinya ...

Toh semua sudah kupasrahkan pada-Nya
Aku IKHLAS...
Sampai jika suatu saat nanti ketika kau kembali pulang sembari membawa sepucuk surat undangan kabar 'membahagiakan' itu, aku akan siap. Insyaallah aku siap!

Tersenyum dan mendoakan yang terbaik untukmu.
Sekarang, aku tak berharap apa-apa, hanya yang terbaik untukmu
Kutitipkan doa dalam tujuanmu disana
Semoga kau berhasil melawan kuatnya arus yang berliku disana, ingat Jakarta sangat berbeda dengan Jogja
Jika kau memutuskan untuk mengunjungi kami disini sejenak, pulanglah membawa semangat dan kebahagiaan untuk keluargamu
Tunjukkan bahwa kau tak main-main selama berada disana
Sukses! Gapailah impian yang selama ini kau impikan!

Lalu nasibku?
Ya, memang sulit harus kehilangan yang kita cintai apalagi untuk yang kedua kalinya. Andra dan kamu. Satu persatu hilang dan akhirnya kini semuanya telah menghilang. Mereka yang pernah ada dalam kehidupanku, hilang.

Hilang.

Namun, sudah banyak pelajaran yang aku dapatkan ketika aku kehilangan Andra. Belajar ikhlas dan tetap jadi anak yang baik.

BELAJAR IKHLAS DAN TETAP JADI ANAK YANG BAIK


Bismillah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar