Selasa, 22 November 2011

Kejadian FISIP UI Depok Jakarta



"Kak, kamu ... saudaranya Andra ya?" tanyaku.
"Andra? Wew? Andra siapa ya?" jawabnya dan begitu seterusnya.
"Nozandra Avandira"
"Mmm... bukan. Kenapa?"
"Nggak sih, nggak apa-apa."
"Lho kenapa?"
"Nggak kok, nggak apa-apa."


Suasana pra-awarding night Olimpiade Ilmu Sosial kampus FISIP UI Depok Jakarta senja itu mengantarkanku pada suatu peristiwa ajaib. Seminggu dikarantina bersama teman-teman dari seluruh penjuru tanah air (juga Filipina) dan panitia ber'jaket-kuning' yang luar biasa hebatnya membuatku tak akan lupa akan hari-hari menyenangkan itu termasuk salah satunya ...

KUTEMUI SEORANG LELAKI YANG MIRIP DENGAN ANDRA!

Awalnya biasa saja, bisa kutahan gejolak untuk mengingat tentang Andra lagi. Tapi sesabar-sabarnya manusia pasti ada batasnya. Jumat malam itu rasanya berbeda. Hal terbodoh adalah saat-saat yang seharusnya membahagiakan harus kulalui dengan kegalauan. Sumpah! Demi apa tiba-tiba pikiranku kosong dan aku merasa sangat terkenang sekali.

Teman-teman pun mengajakku pergi ke kantin untuk membeli beberapa makanan. Di kantin, kutemui lelaki itu. Memang tak kuputuskan untuk membeli sesuatu pun. Aku hanya berusaha cuek dengan keberadaannya dan ya, dia pergi dengan sebelumnya membeli tissue kering. Kuamati kepergiannya di arah yang berlawanan dengan kami. Aku berjalan mengikuti arah teman-temanku berjalan. Dua puluh detik-an kemudian tiba tiba aku berteriak.

AAAAAAAAA!

Mereka mengamatiku, "Sudah! Lanjutkan perjalanan kalian, aku ada keperluan sebentar." kataku.
"Medha! Mau kemana?" tanya Sylvi, temanku dari SMAN Rangkasbitung.
"Mmm .... entahlah, terserah kalau kamu mau ikut, ayo! Kalau enggak, ikuti mereka (sambil menunjuk gerombolan temanku)"

Pikiranku kacau: aku ingin mengejar kakak itu entah bagaimana caranya. Memang hal ini terkesan bodoh. Kakak itu sudah lenyap dari pandangan. Setiap mahasiswa berjaket-kuning yang kutemui di sepanjang perjalanan kutanyai "Kak lihat panitia OIS yang pakai kaos mirip abu-abu dan jaketnya di selempangkan di badan" dan semua hanya bingung "Siapa namanya?" aku menggeleng karena aku memang belum tahu siapa namanya dan mereka berkata ... "enggak!" sampai beberapa kalinya.

Arrrgh!
Sialnya, ternyata Sylvi mengikutiku. Ah! Aku malah merasa kasihan dengan dia mengikuti pencarian bodoh ini. Sudah semua ku kelilingi separuh kampus FISIP UI, namun hasilnya nihil! Aku tak bertemu kakak itu, dan malam ini malam terakhir. Malam dimana dan bagaimana caranya aku harus bicara dengan kakak itu sebelum galau-ku menjadi akut. Tapi aku sudah sangat menyerah dan aku benar-benar menyerah!

Aku menyerah!
Hampir aku menangis dibuat oleh keadaan ini. Aku membayangkan masa-masa dimana aku sudah tak mungkin lagi bertemu dengan Andra. Tapi lihatlah, kakak itu ANDRA! Dia ANDRA!!! Dia adalah Andra dan aku tak mau lagi kehilangan untuk yang kedua kalinya. Aku tak mau kehilangan Andra 'lagi'!

Tapi kesempatan itu pupus sudah. Lelaki itu mungkin sudah pulang atau entahlah mungkin sudah tak ada lagi kesempatan untuk bicara dengan mata Andra lagi. Andra sudah tiada. Andra sudah meninggal dan ... harus aku sadari, dia bukan Andra. Andra telah tiada!! Lalu kembali aku kedalam ruangan dan duduk diatas kursi. Diam... dan kulipat kedua tanganku diatas bahu kursi. Air mataku mengalir dan ya ... aku menangis.

Me-na-ngis
Menangis adalah alasan termanis untuk membuka lagi semua kerinduan yang mengiris

Pikiran tentang masa lalu itu seketika membuat tangisku semakin merebak. Kala itu aku menjadi orang tercengeng yang pernah ada di ruangan. Tak seorang pun tahu aku menangis, kecuali mereka telah mendoktrin bahwa aku: sedang galau. Ya... itu baik daripada mereka harus repot-repot menghiburku bla bla bla yang aku cukup tak menyukai hiburan tangisan. Satu lagi, kecuali mungkin setelah membaca postingan ini :)

"Ke toilet yuk." ajak Riska, salah satu temanku dari SMAN Rangkasbitung. Aku nyaris menolak. Tapi kupikir mungkin lebih baik kalau aku bisa mengguyur wajahku dengan air kran dingin dan melupakan masalan itu. Kuterima tawaran itu dan di depan pintu toilet dan ya! AKU BERTEMU DIA! LELAKI ITU LAGI!

AKU BERTEMU ANDRA!!!


Aku tak bisa melukiskan seberapa bahagia perasaan waktu itu. Aku bahagia meski sebenarnya aku belum mengenal siapa dia. Aku tak tahu siapa dia. Yang sudah jelas adanya adalah, dia panitia dari kegiatan yang tengah kuikuti ini dan dia anak Universitas Indonesia terlihat dari keberadaannya yang hampir selalu ada pada setiap kegiatan kami dan, ya ... jaket kuningnya.

Ternyata dia sedang mempersiapkan penampilannya di ajang nanti. Aku berdiri di sebelahnya. Ragu untuk memulai kata-kata, kuputuskan untuk diam sejenak. Sedikit mengamatinya, kemudian kembali pada tatapan kosongku. Sampai pada akhirnya ...
"Kakak benar-benar bukan saudaranya Andra ya?"
"Andra? Mmm... aku sih ada saudara yang namanya Andra. Tapi ... nggak begitu dekat dan kayaknya memang saudara jauh. Memang kenapa sih?"
"Kamu mirip sama teman/saudaraku namanya Andra, kak."


sssshhhhh~
mengucapkan kalimat yang ini membuat angin berhembus lebih lembut dalam tiga detik pertama dan kembali lagi

"Mirip? Wow? Oh ya? Sekarang dia dimana?"
"Dia..."
"Iya, dia dimana?"
"........"

sejenak berbicara dengan kakak panitia yg lain bahwa ada orang yang mirip dengannya lalu kembali lagi
"Oh teman satu sekolah ya?"
"Oh enggak, bukan."
"Lalu...??"
"........"
"Dia di Jogja juga?"
Aku menggeleng, "ah nggak ah. Makasih kak. Nggak perlu."
"Lho? Kenapa kenapa? Sudah cerita aja nggak apa-apa."
"Nggak deh kak, makasih. Nanti aja deh ..."


kemudian kami bisu. Aku diam disana mematung sampai tanpa kusadari ternyata mereka telah pergi dan aku sendiri disana sampai sekitar 15-25 menitan dan kuputuskan kembali dengan perasaan yang masih sama. Galau~

Namun ternyata semua berbeda ceritanya di akhir acara malam itu. Kami berfoto dan kupastikan aku akan menceritakan semua tentang Andra kepadanya. Tak lupa juga akhirnya sudah kuketahui siapa namanya. Lelaki itu bernama Kak Glen! :)

Aku merasa sangat beruntung bisa mengenalnya dengan baik. Dia lelaki yang baik dan bocorannya nih, dia setuju bakal jadi tokoh Andra kalau blog ini bisa direkomendasikan menjadi novel kemudian film. Asyik :D

Selama mengenalnya, aku merasa Andra seperti telah kembali lagi. Memang, Kak Glen bukanlah Andra. Sudah pasti. Dan sekarang aku ingin mengenalnya bukan karena dia mirip (sumpah mirip) dengan Andra tetapi karena dirinya sendiri. Banyak cerita yang kami tukar selama kami saling bercerita. Aku senang mengenalnya, aku menemukan lagi dia yang hilang. Makasih banyak Kak Glen! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar