Sabtu, 18 Februari 2012

When You're Gone ( R.I.P Andra 12 Des 1992 - 16 Feb 2010 )



Jika postingan beberapa waktu lalu tentang hari kelahirannya maka kini aku ingin menuliskan tentang hari kepergiannya yang ternyata tak begitu terpaut jauh jaraknya.

DESEMBER - JANUARI - FEBRUARI 

Sejujurnya aku sudah hampir lupa soal ini, bahkan aku hampir tak ingat tanggal kepergiannya saat kutuliskan postingan kali ini. Itulah mengapa aku menuliskan ini terlambat tak seperti postingan-postingan sebelumnya yang biasa on time. Yes! Mungkin ini baik karena aku sudah mulai beranjak melupakan Andra perlahan-lahan. Mulai menghadapi hari-hari dengan kenyataan tanpa terus dirundung kesedihan. Entah mengapa, kepergian xxxx untuk bekerja di Jakarta juga cukup membuatku lupa akan masa lalu 'mereka'. Ya, xxxx dan Andra hampir seperti satu kesatuan yang mana jika aku mengingat salah satunya maka secara otomatis akan terkenang keduanya.

Andra memang datang tak jauh lebih dulu dari xxxx, tapi bekas luka yang ditinggalkan justru jauh lebih dalam. Mungkin karena dia datang terlalu dekat lalu pergi terlalu cepat. Kalau diingat rasanya kayak angin gitu, sejuk... terus hilang. Khusus kenangan yang baik-baik lho ya. Padahal kalau dihitung banyakan kenangan yang nggak enak-enak apalagi semenjak dia sering ngerasa jealous sama xxxx. Bikin emosi bisanya! Kalau keadaan sudah seperti ini, biasanya aku yang bakal banyak diam. Ngedumel sendiri aja dalam ati, kenapa ada sih cowok macam dia ngeselin gitu!

Sekarang setiap ingat momen-momen itu rasanya miris. Apalagi kalau ingatnya kebablasan sampai hari-hari sebelum dia pergi. Waktu kejadian pertama dimana aku dikabari dia opname waktu kita sama-sama online chat facebook. Kata dia penyebab opname-nya karena dia merasa capek akibat terlalu banyak aktivitas kampus dan masalah culture shock-nya. Aku sih nggak merasa curiga yang lain-lain atau bertanya lebih jauh tentang diagnosanya. Aku pun tak memiliki firasat apa-apa kalau waktu itu bakal menjadi komunikasi kami untuk yang terakhir kalinya sampai beberapa minggu kemudian aku dikontak Mas Hendra ketika Andra lagi-lagi opname namun telah dalam keadaan koma.

KOMA?
Kabar apa ini?!?!
Aku nyaris marah sama Mas Hendra waktu itu, bagaimana bisa Andra tiba-tiba koma tanpa kabar apa-apa sebelumnya. Andra nggak punya penyakit apa-apa! Begitu yang kukatakan berkali-kali. Akan tetapi Mas Hendra hanya bisa mengelak, dia juga belum tahu apa penyebabnya karena hanya mendapatkan kabar itu dari papa-mamanya disana dan telepon sempat terputus. Air mataku meleleh bertepatan dengan adzan yang berkumandang pada senja hari itu. Segera kuambil air wudlu untuk shalat maghrib dan kutenangkan diriku dalam naungan-Nya.

Ini adalah satu keadaan yang aku tak tahu harus berbuat apa selain berdoa dan menangis. Andra koma, semacam sebuah ketidakpercayaan yang harus dipercayai. Sulit! Kuhabiskan malam itu dengan tadarus di kamar sampai masuklah kabar lagi ke handphone-ku pukul 8 malam WIB dari Mas Hendra kalau status kondisi Andra telah kritis. Air mataku meleleh semakin deras. ANDRA KRITIS!

Aku semakin bingung setelah mendapatkan kabar buruk itu. Harus berbuat apa aku??? Tanpa pikir panjang kukabari hal ini via pesan singkat kepada teman-temanku yang juga mengenal Andra atau sebaliknya. Aku memohon doa untuk kesembuhan Andra malam itu. Aku sudah tak bisa melanjutkan bacaan qur'an-ku lagi, aku sudah tak mampu membacanya sementara air mataku menggenang dan tumpah begitu cepatnya. Menggenang sesaat kemudian tumpah. Aku tak mampu membaca qur'an dengan keadaan seperti ini! Malam itu menjadi malam terlelahku karena tangis dan tak terasa pun aku terlelap masih lengkap dengan mukena shalatku.

Adzan subuh membangunkanku dengan kantung mata panda yang cukup besar karena tangis. Segera kuambil air wudlu dan kutunaikan satu ibadah wajib dua rakaat pagi hari itu. Aku sudah mulai tenang tak seperti semalam. Usai shalat subuh tak lupa kunaikkan kedua tanganku untuk memanjatkan doa pada Yang Kuasa termasuk untuk kesembuhan Andra. Ada firasat yang aneh ketika doa itu tengah kupanjatkan. Belum selesai aku mendoakannya tiba-tiba aku memiliki keinginan yang kuat untuk meraih handphone-ku dari atas meja saat itu juga! Firasatku semakin buruk ketika kubaca satu pesan singkat terbaru dari Mas Hendra yang terkirim dua jam yang lalu.


Innalillahi wa innalillahi roji'un, Andra telah berpulang pk 9 waktu perancis. Sampaikan kabar ini ke saudara dan teman-temannya di Jogja ya. Dimakamkan di Surabaya besok. Kita semua berdoa yang terbaik agar dia tenang diterima disisi-Nya. Amin.

Air mataku meleleh ... lagi. Namun butiran lelehan kali ini lebih besar dan terasa sangat panas. Aku menangis. Menangis semakin keras dan deras meski tanpa suara karena aku takut mengganggu seisi rumah karena tangisku. Langsung saja kusujudkan kepala dan tempurung kakiku menyentuh lantai yang tertutup sajadahku. "Andra...! Andra...!!" kupanggil nama itu dalam setiap tangisku. Kutahan suara tangisku yang begitu keras dengan kain sajadahku. Air mataku terus menderas membasahi kain sajadahku dan aku sesaat tak peduli dengan doa ba'da subuhku yang belum usai. Aku hanya ingin Allah mengerti kesedihanku di pagi hari itu. Kesedihanku yang semakin menjadi menyadari kenapa aku harus tertidur di saat puncaknya Andra kritis dua jam yang lalu. Kenapa aku dengan enaknya tertidur sementara Andra sedang meregang nyawanya disana di dalam waktu yang sama!



Andra telah tiada.
Andra meninggal! Kau tahu apa itu meninggal?
Pergi untuk selama-lamanya!
Tak akan pernah ada lagi obrolan itu!
Tak akan pernah ada lagi sandaran kepala paling nyaman itu!
Tak akan pernah ada lagi Nozandra Avandira!!!

Tangisku semakin besar dengan segala kenyataan yang akan segera kuhadapi kedepan itu. Tapi aku mulai sadar, ini kehendak Allah. Allah yang telah menciptakannya 17 tahun lalu menginginkannya kembali ke sisi-Nya pada hari itu juga. Allah yang kini juga sedang bersamaku di atas sajadah ini dalam waktu yang sama.



Aku bersujud sekali lagi untuk memohon ampun kepada-Nya meski masih dengan tangis yang lebat. Perlahan mulai kutenangkan diriku sendiri atas nama Allah. Kusebut nama Allah berkali-kali untuk benar-benar menghentikan kesedihan ini. Tiga kali aku masih belum sanggup juga menghentikan tangisku sampai pada akhirnya pada percobaan ke empat aku mencoba untuk duduk dan menyelesaikan doa subuhku pagi itu yang kemudian dilanjutkan doa yang lain...

"Ya Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Segalanya. Ampunilah hamba yang terus-terusan menangisi kepergian seseorang yang sangat hamba sayangi itu ya Allah. Maafkanlah hamba yang masih belum siap menerima kenyataan bahwa Andra telah tiada. Tenangkanlah hamba, Ya Rabb. Hanya kepada-Mu lah hamba memohon dan terus memohon Ya Allah. Kuatkanlah serta tabahkanlah hati hamba menerima kenyataan ini. Sesungguhnya Engkau Sang Pemilik hakiki yang berhak mengambil ciptaan-Mu lagi kapan saja. Ikhlaskanlah hamba menerima cobaan-Mu ini Ya Rabb."

Aku mengambil nafas panjang, sangat panjang yang kemudian menghembuskannya. Kuseka air mataku di wajah dan sedikit demi sedikit aku sudah mulai bisa tenang. kulanjutkan doa itu lagi...

"Hal ini pasti akan sulit hamba lewati, Ya Rabb. Tapi hamba percaya Kau hanya akan berikan cobaan kepada umat-Mu sebesar pikulan kekuatan umat-Mu bisa menanggungnya. Hamba akan belajar mengikhlaskan semua ini, Ya Allah. Berikan hamba kekuatan dan petunjuk-Mu untuk melalui ini semua Ya Allah." 

Aku semakin mantab menyelesaikan doaku,

 "Hamba ikhlas ya Allah jika Andra harus kembali ke sisi-Mu. Ampunilah segala kesalahannya. Terimalah segala amal ibadahnya. Berikan dia tempat terbaik disana Ya Rabb. Karena hanya kepada-Mu lah hamba memohon Ya Allah. Amin ya Rabbal alamin."


Pagi hari itu berkabung. Bersyukur, langit tak mendung, setidaknya hal ini akan memperlancar jalannya jasad Andra untuk kembali ke tanah Indonesia yang kemudian langsung dilanjutkan pemakamannya besok di Surabaya. Aku tak bisa menghadiri pemakaman itu dan harus pergi ke sekolah di hari yang sama. Raut kesedihan masih terpancar di wajahku untuk hari itu sampai seminggu kemudian. Aku melewatkan hari-hari terburukku tanpa Andra sejak saat itu.

Perjalanan sampai menuju detik ini menurutku sangat tidak mudah. Sampai aku benar-benar ikhlas merelakan dia pergi untuk selama-lamanya. Entah bagaimana akhirnya aku sanggup padahal aku hanya terus berpikir, aku tak mau menjadi wanita pengecut yang semangatnya turut tumbang karena ditinggal orang yang dicintainya pergi untuk selama-lamanya. Awalnya kupikir mungkin inilah jalan yang terbaik untuk Andra. Tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menahan sakit jika dia masih tetap hidup namun tersiksa dengan penyakit ginjalnya. Ya, dia memiliki penyakit ginjal kronis yang baru terkuak di akhir-akhir hidupnya.

Sekarang adil. Tak ada Andra dan xxxx lagi disini. Aku tak lagi memilih satu diantara keduanya. Menurutku ini merupakan pilihan paling bijak tanpa harus menyakiti salah satunya termasuk menyakiti diriku sendiri. Kuharap kini kau tenang disana dengan keputusan ini, Ndra. Jangan nakal ya kalau ada malaikat-malaikat cantik yang kini menemani tidur abadimu. Hehehe. Kami semua menyayangimu. Postingan ini bukan perayaan lho, Ndra, ingat itu. Aku hanya ingin mengingatmu bersama pembaca, untuk sekali lagi, tentang hari-hari itu. Aku hanya tak ingin melupakanmu yang pernah ada dalam hidupku. Mengingatmu untuk sekali lagi bahwa kau benar-benar berharga untuk hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar