Senin, 14 Mei 2012

Roda Dua Belanda (Surat Pertama dari Belanda)

Rotterdam, 
akhir musim semi


Sahabat pena. Cara kuno yang nggak ketinggalan jaman. Tak kalah menyenangkan dari Facebook atau yang serupa. Yang jelas, ada jejak fisik yang bisa disimpan untuk dijadikan kenangan.

Hari ini tepat dua bulan aku tinggal di negara bagian Eropa yang sangat menghargai sepeda. Aku ‘krasan (jawa: betah)’ tinggal disini. Udaranya sangat bersih dan kondusif untuk bersepeda. Ya seperti yang kau tahu, aku senang bersepeda. Aku banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman untuk bersepeda mengelilingi kota karena kelasku baru mulai minggu depan, mungkin sudah berjalan seminggu saat kau membaca surat ini di Indonesia. Bersepeda disini sangatlah menyenangkan, mau tahu kenapa? Baiklah jika kau jawab tidak pun, akan tetap kuceritakan.



Berbicara tentang Belanda adalah berbicara tentang kehidupan bersepedanya. Masyarakat lebih memilih sarana transportasi satu  ini dibandingkan dengan yang lainnya. Selain lebih murah (karena bisa dipakai berkali-kali tanpa biaya tambahan), pemerintah juga menyediakan jalur khusus sepeda. Hal ini memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengendaranya. Berbeda dengan di Indonesia misalnya. Di negara kita hak-hak pengendara sepeda kerap dirampas oleh kendaraan-kendaraan besar yang merasa lebih berkuasa di jalanan. Parahnya masalah ini masih sering diabaikan oleh polisi pengatur lalu lintas jalan.

Di Belanda sendiri jika terjadi hal semacam itu, polisi akan langsung menindak tegas ‘penyeleweng’-nya dengan sistem denda. Besar dendanya tak main-main, jika dirupiahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah. Denda yang ditetapkan ini mengkondisikan warganya untuk taat pada aturan. Inilah alasan mengapa arus lalu lintas berjalan baik dan teratur. Tak berhenti sampai disitu. Disini pengendara sepeda juga memiliki aturan mengemudi dengan sanksi untuk pelanggarnya. Kemarin saja teman satu apartemen dikenai denda sekitar 30 Euro karena mengendarai sepedanya di atas trotoar dan conblock jalan yang seharusnya untuk pejalan kaki. Bayangkan saja, tiga ratus ribu rupiah uang bulanannya melayang hanya karena kesalahan sepele.


Negeri ini memang ketat pada aturan, tapi bukan kemudian berarti tak ada kejahatan. Pencurian sepeda sering terjadi di negara maju ini. Kasus pencurian umumnya terjadi pada sepeda yang memiliki rantai gembok yang biasa sehingga mudah diputus ataupun direkayasa untuk melepaskan kaitan kuncinya. Tak jarang banyak sepeda memiliki rantai gembok besar dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga sepedanya. Eitss... namun masalah tak berhenti sampai disitu. Kalau pemilik meletakkan sepedanya pada tempat yang kurang aman lainnya, bisa-bisa saat kembali dia akan menemui kendaraannya tersebut telah rusak karena perbuatan tangan-tangan jahil preman yang ada.



Kalau sepeda sudah rusak, ia akan ditinggalkan begitu saja dan dibuang di pinggir jalan sebagai sampah sepeda. Pemilik lebih memilih membeli yang baru daripada memperbaikinya. Hal ini terkait dengan mahalnya biaya perbaikan karena ijin usaha di Belanda sangat sulit didapatkan disamping kurangnya tenaga kerja. Negara ini sangat menghargai arti tenaga manusia yang bekerja, itulah mengapa segala hal yang dilakukan langsung dengan tangan manusia dihargai dengan nominal uang yang cukup tinggi. Tak hanya urusan perbaikan sepeda saja, namun termasuk urusan perbaikan yang lainnya.

 Butuh sebuku untuk menuliskan kisahku lainnya, tapi tak apalah kukirim sepotong daripada kau kecewa. 



Salam rindu,
Aji

Tidak ada komentar:

Posting Komentar