Rabu, 09 Januari 2013

"Habibie & Ainun" dalam "Jurnal 30 Hari"



"Kamu itu orang paling keras kepala dan paling sulit yang pernah aku kenal, tapi kalau aku harus mengulang hidupku lagi aku akan tetap memilih kamu." 
Ainun (dalam Habibie, 2010)


Membaca buku, menonton film, dan menghayatinya seakan mengulang kembali romantisme kisah masa lalu yang pernah terjadi di antara mereka
Siapa yang tak kenal "Habibie & Ainun"?

Belumkah?
Bagaimana dengan Habibie? BJ Habibie?
Insinyur pesawat terbang lulusan S3 di Jerman yang diakui kejeniusannya;
Sosok nomor satu yang pernah memimpin Indonesia, lepas lengsernya Presiden Soeharto tahun 1998;
Seorang putera bangsa yang mengabdikan dirinya pada Indonesia;
Seorang ayah yang begitu menyayangi keluarganya;
Seorang suami yang begitu menyayangi isteri satu-satunya; dan
seorang penulis yang menuliskan kisah hidupnya sendiri dalam "Habibie & Ainun".


Jujur saja, aku masih larut dalam kisah cinta mereka sekarang
Belum lama aku usai menonton filmnya di bioskop bersama Tya
Film ini cukup menguras air mata
Terbukti ketika lampu dalam bioskop kembali dinyalakan, banyak penonton tampak mengusap kelopak matanya yang basah
Termasuk Tya, sahabat yang terkenal 'ngeyelan' ini
"Heh?? Ngapain lo? Hahaha!" tanyaku sambil tertawa melihat dia sibuk mengeluarkan lembaran tisu dari dalam tas dan menempelkan pada sudut-sudut kelopak matanya.
"Sialan! Kamu nggak sedih?"
Aku hanya tersenyum. Kecut. Kubiarkan dia bicara me-review apa yang dilihatnya dalam layar lebar saat kita mulai berjalan menuju pintu keluar bioskop.
"Sedih banget ya. Menurutmu?"
Aku tersenyum lalu berkata;
"Iya. Aku hanya menahan tangis, tidak ingin mengulang kejadian yang sama seperti tahun-tahun yang lalu."
"Maksudnya?"
"Kamu ingat almarhum Andra? Bedanya, Ainun jauh lebih beruntung karena ada Habibie yang setia menemani hidup sampai kepergiannya. Andra...?"


.....bahkan aku baru tahu dia opname saat kondisinya telah kritis dan tak bisa banyak berbuat apa-apa karena jarak Yogya-Strasbourg tak sedekat Yogya-Solo, hanya doa. Ya, hanya doa....

Muncul lagi kenangan Andra hari ini.


Andra.
Sejauh apa aku berusaha menghindar, rupanya Tuhan masih enggan
Bahkan beberapa saat lalu Mas Hendra (kakak Andra) mengirimkan pesan dinding di facebook:
"Saat aku tak lagi di sisimu, ku tunggu kau di keabadian. Aku tak pernah pergi, selalu ada di hatimu. Kau tak pernah jauh, selalu ada di dalam hatiku..."

lirik soundtracknya Andra buat kamu dek, hahhaha.
Just for fun! :p
Entah maksudnya apa tiba-tiba mengirimkan wall macam ini
catatan untuk Mas Hendra: 
"Katanya nggak boleh lagi mengungkit soal Andra, kenapa kirim kayak gini???"
Katanya sih efek nonton Film "Habibie & Ainun" waktu balik ke Surabaya akhir tahun 2012 kemaren
Mas Hendra tiba-tiba ingat saat terakhir almarhum memperjuangkan hidupnya di IGD rumah sakit
Keharusannya meneleponku, memberitahuku, tapi sudah berada dalam posisi terlambat!



Ah... tenang saja
Aku tidak menangis, aku hanya sedang mengenang masa-masa itu.
Aku tidak menyangka, waktu sudah hampir berlalu tiga tahun sekarang.
Masa-masa tersulit itu berlalu (masih) dengan liku.
Kupikir keputusanku untuk memilih xxxx adalah keputusan yang bulat dan tepat.
Waktu pun bergulir, memberikan jawabannya.
Aku dan dia rupanya tidak berada pada satu jalan yang sama.
Kami memegang ideologi yang bersebrangan.
Aku memilih mundur dan kembali pada Andra yang telah tiada.

Bodoh!
Keputusan macam apa ini?
Mencintai orang yang telah tiada bukankah hanya membuatku tampak tak waras?
Ya, katakanlah begitu.
Entah, tapi aku menikmati masa-masanya.
Masa-masa yang selalu dilewati dengan penyesalan--sebutlah kegalauan--sampai...
Sampai akhirnya kutemukan seorang yang kehadirannya perlahan mengaburkan kesedihan :)

Lelaki ini tak pernah tahu soal Andra yang saat itu sedang memenuhi rongga pikiran
Sengaja tak kuceritakan perihal ini, kecuali dia mau tengok blog Verloren Liefde
Seharusnya dia menengok, apalagi saat kuberikan sebuah alamat blog khusus Jurnal 30 Hari
Sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-19 pada 16 Desember 2012 yang lalu

Klik saja tulisannya, secara otomatis kau akan menjelajah blog tersebut

Blog itu kutulis dengan penuh kesabaran
Tanpa komunikasi, tanpa cakap, tanpa temu... kurasa aku harus sabar 'berpuasa' dari sosok ini
Demi blog berjudul: Jurnal 30 Hari
Ya, 30 hari adalah waktu pelaksanaan blog tersebut
Apa yang terjadi di dalamnya benar-benar tanpa rekayasa
Aku mengalaminya sendiri dan menuliskannya disitu
Berbekal pikiran positif yang kubentuk sendiri
Aku berusaha terus bertahan dari derasnya terpaan godaan
Dan aku berhasil menyelesaikannya sesuai deadline yang telah ditentukan!


Sungguh sebuah syukur yang tak terhingga kupanjatkan kepada Allah SWT dan teman-teman yang turut menyukseskan terbentuknya blog tersebut.
Tanpa-Nya dan mereka, tak akan pernah ada blog beralamat tanggal deadline tersebut.
Terima kasih ya!

Hanya saja, keberuntunganku yang lain mengarahkanku pada kenyataan cukup pahit
Proses 'kepo' yang sengaja kulakukan tepat di tanggal yang sama, 16 Desember 2012, menuntunku untuk menemukan 'sesuatu'
Sesuatu yang tampak sangat menyakitkan dan meruntuhkan semangat positif yang telah kubina selama 30 hari terakhir dalam tiga detik hitungan
DROP! Ini pasti.
SAKIT? Apalagi.

"Aku pernah melalui hal yang lebih sakit dari ini, aku pasti mampu menghadapinya! Medha pasti tegar! HARUSNYA MEDHA TEGAR!" hanya ini yang dapat terus kuteriakkan dalam hati.

Ternyata 30 hari tanpa komunikasi itu justru membuatnya berbalik arah pada... tak perlu kusebutkan siapa
Mungkin dipikirnya, aku sudah tak lagi peduli
Padahal yang terjadi...
Aku menahan kerinduanku setiap malam
Aku menuliskan namanya setiap malam
Aku memikirkan keadaannya setiap malam
Aku mencemaskan kondisinya setiap malam
Aku mendoakannya setiap malam
Aku mengamini pikiran positifku setiap malam
Aku mempersiapkan jurnal ini setiap malam

Subhanallah, Tuhan Mahabaik!
Tuhan sengaja membiarkanku menjumpai kenyataan ini tepat saat Jurnal 30 Hari selesai dikerjakan
Tuhan ingin melihat semangatku sampai akhir
Tuhan tak ingin melihat karya ini terhenti pada jurnal ke-sekian kemudian terbengkalai
Tuhan mengulurkan tangan-Nya mewujudkan mimpiku untuk mengungkapkan kepadanya

Bukan salah lelaki itu, tentu saja!
Toh aku yang menemukan kebenarannya tanpa dia tahu akhirnya aku tahu
Aku memutuskan untuk mundur seminggu setelah jurnal tersebut selesai dikerjakan
Aku belum benar-benar meninggalkannya sekarang
Aku tak tahu harus melangkah kemana lagi setelah ini
Aku tak bisa menemukan orang yang benar-benar tepat setelah menjalani harapan-harapan yang salah
Harapan itu tidak ada, nihil!

Sampai akhirnya kini bayangan Andra muncul lagi . . .


Film "Habibie & Ainun" seperti menyadarkanku akan keberadaan cinta sejati
Mereka (Habibie dan Ainun) tidak sama-sama mencari juga tidak sama-sama menunggu
Semua yang terjadi mengalir begitu saja dalam rangkai hari-hari
Cinta mereka nyata adanya
Cinta sejati benar-benar ada di dunia
Aku percaya
Suatu saat akan datang laki-laki itu 'lagi'

Andra
Cinta sejati itu bisa jadi jatuh pada lelaki ini
Aku tak lagi menyesali, lihatlah Habibie yang begitu mencintai Ainun
Walau pun ikatan mereka:
UTUH.
SATU.
Kodrat Ibu Ainun yang diinginkan-Nya kembali mendahului Pak Habibie
Tetap akan terjadi

Mungkin, aku tidak akan setegar Pak Habibie;
jika dulu aku mencintai Andra seperti Andra mencintaiku
Mungkin, aku tidak akan sekuat Pak Habibie;
jika dulu kami berstatus 'in relationship' dan pada posisi yang sama kehilangan Andra secepat ini
Mungkin, aku tidak akan seikhlas Pak Habibie;
jika dulu aku mencintai Andra begitu hebatnya dan harus merelakan kepergiannya sampai detik ini


Selamat jalan Ibu Ainun, semoga kekal dalam surga keabadian-Nya
Terima kasih atas cintanya kepada Pak Habibie yang sangat menginspirasi ini
Kepada Pak Habibie,
terima kasih telah bersedia menuliskan kisah hidup yang begitu luar biasa ini
Indonesia bangga memiliki putera bangsa seperti bapak.
Semoga kami mampu meneladani semangat dan keteladanan bapak, baik cita maupun cintanya.
AMIIEEN

Kepada pembaca setia:
Selamat membaca novel & menonton filmnya! ^^

Referensi:
Jusuf Habibie, Bacharuddin. 2010. Habibie & Ainun. Jakarta: PT THC Mandiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar