Sabtu, 16 Februari 2013

Dear Andra



Hari ini, tiga tahun yang lalu
Kepergian itu


Tiga tahun telah berlalu, namun kisahnya masih tercatat baik dalam ingatan :')


Andra.
Apalagi yang mesti kupikirkan tentang jatuhnya tanggal hari kepergian orang yang pernah kusayang?
Apa yang bisa kurindukan dari sebuah tanggal dimana justru kurasakan kehilangan yang teramat dalam?
*Kutarik pelan otot-otot syaraf di pipiku
Kulepaskan senyum melegakan-diri-sendiri ini*
Sebutlah begitu.



16 Februari 2010 - 16 Februari 2013 bukanlah waktu yang sebentar untuk menghadapi kenyataan bahwa Andra telah tiada :')


Tiga tahun.
Seharusnya aku sudah berhenti memikirkan hal ini
Kucoba berulang kali dengan sepenuh hati
Pernahlah berhasil untuk kisaran waktu hampir satu tahun
Namun akhirnya gagal, ketika kusadari aku salah menempatkan hatiku pada 'seseorang'
Dia memang berhasil mengalihkan perhatianku untuk tak lagi memikirkan Andra
Tapi ternyata kebahagiaanku hanya untuk sesaat saja
Aku tahu keterpisahan jarak kami tanpa dia benar tahu apa yg terjadi dengan perasaanku
Bukanlah perkara yang mudah untuk dilewati



Adalah saat-saat dimana harus kuhadapi kenyataan tak mungkin ada lagi kamu yang selalu ada untuk menemani :')


Berita kesedihan yang kuhadapi, sepenuhnya kini menjadi perkaraku
Dulu jika hal ini menimpa, kau selalu ada untuk meredakannya
Saat kepala sudah tak mampu lagi menampung letupan-letupan amarahnya
Saat mata sudah tak mampu lagi membendung perih air matanya
Kau selalu mengajakku pergi ke suatu tempat yang luas untuk meluapkannya
Sekarang?
Bahkan untuk sekedar mencubit gemas lenganmu ketika kau mulai menyebalkan,

Aku tak bisa.
Semua harus kuhadapi sendirian, termasuk merindukanmu,
Satu hal yang tak pernah habis terselesaikan



Kehilanganmu adalah satu hal terburuk yang pernah kuhadapi selama tahun 2010 :')


Kepergianmu saat itu bertepatan dengan hari-hari perceraian mama-papa
Bagaimana rasanya ketika hatiku hancur berkeping-keping melihat kondisi macam ini?
Kehilanganmu dan kehilangan kasih mereka
Aku nyaris tak percaya sebagai insan manusia
Apakah aku yang saat itu belum genap usia 16 tahun pantas mendapatkan ujian macam ini?
Apa kesalahanku di masa lalu hingga Tuhan mengujiku dengan ujian yang sungguh luar biasa ini?



Pernah kehilanganmu memberi satu pelajaran penting bagiku, bahwa tak seharusnya aku menyiakan lagi mereka yang tulus menyayangiku :')



Kehilanganmu memang hanya 'kan terjadi satu kali ini
Namun darinya aku memetik satu poin pelajaran penting untuk hari kedepan
Aku tak akan menyiakan waktu bersama mereka yang masih mampu menyayangiku di dunia
Mama-Papa misalnya
Meski mereka tak mungkin lagi tinggal berdua bersama, aku, serta kakak
Aku tetap akan berusaha mengerti keadaan tanpa mempertanyakan terlalu dalam
Aku tahu ini sulit, sangat sulit.
Tapi mereka masih dapat menggenggam tanganku erat
Nafas mereka masih berhembus menguatkan perjalanan menuju proses pendewasaan ini
Beranjak dewasa,
Beranjak pada kehidupan yang lebih nyata dan kompleks



Kini kusadari rasa kehilangan itu bertubi-tubi, menyayangkan perhatianmu yang kini hilang tersapu sulitnya ujian kehidupan :')


Menjadi dewasa sangat tidak menyenangkan
Ketika diri mulai dituntut untuk mau tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan
Tidak hanya dalam satu hal,
Segala hal!
Seperti ujian kenaikan tingkat, semakin sulit saja rasanya
Proses pertemuan dan perpisahan sebagai satu perangkat tak terpisahkan,
Semakin sering ditemui
Bertambah usia, beranjak pada kedewasaan, semakin mengerti segala halnya
Mungkin ini yang dulu pernah dimaksud oleh mereka, para orang tua,
"Nggak bisa dijawab sekarang, tapi waktu yang akan menjawab."
Kita diharapkan paham tidak pada saat yang sama, namun pada saat kita telah dewasa



Tapi Tuhan lebih merindukanmu, Ndra. Tuhan lebih menyayangimu daripada aku. Tuhan lebih mampu bahagiakamu dalam alam kekalnya :')

Aku tidak merayakan hari ini, Ndra
Bukan ide yang baik untuk merayakan hari kapan kamu pernah meregang nyawa di dunia 3 tahun silam
Aku hanya mengenangmu saat ini
Bukankah kematian diciptakan Tuhan untuk mempertegas makhluk-Nya bahwa hidup adalah rangkaian waktu yang ada batasnya?
Tuhan itu Mahaadil
Dia jauh menyayangimu daripadaku
Dia membuatmu bahagia selama-lamanya dalam surga abadi-Nya
Kau pasti mendapatkan penggantiku yang jauh lebih lebih baik dan bahkan sempurna disana
Jangan khawatirkan aku lagi
Meski seringkali aku merindukanmu, bukan berarti aku mengharap kau kembali
Aku ingin kau tenang disana
Suatu hari kita kan dipertemukan lagi
Bukankah begitu janji Tuhan kepadamu?




Tuhan tak ingin lama-lama melihat kasihmu tak berbalas karena aku. Tuhan mencintaimu oleh karenanya Dia mengambilmu terlebih dahulu :')

Percayalah, Tuhan begitu karena Dia lebih menyayangmu daripada aku
*seperti kata mereka





Dia lebih mampu bahagiakanmu daripada aku :')


Percayalah, aku akan baik-baik saja di dunia
Biar rindu itu terus menggelayut wajar saja
Karena kau pernah nyata di hidupku

Tersenyumlah untukku sekarang
Aku tengah berikan senyum untukmu seperti biasa
Biar kurengkuh wajahmu dalam khayal
Mengingat kembali tampan parasmu dalam sisa ingatan
Kamu ganteng, tak ada seorang pun menyangkalnya
Tidurlah, sayang, tidurlah dalam keabadian
Tenanglah dalam surga keabadian




Tuhan menyayangimu, Ndra :')

@verliefde



Kepada pembaca,
Ada yang tahu bagaimana caranya mengirimkan pesan ini ke surga?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar